Aku
kebingungan bagaimana cara aku mewujudkan mimpiku, sementara aku tidak
mengetahui apa itu mimpi ? Setiap waktunya mimpi itu selalu berubah, aku
memaksakan apa yang terjadi di emosi itu. Aku tak mampu mengontrol mau jadi apa
nantinya aku ini. Cemooh, setiap waktu semooh berlalu dan menghadang. Tak ada
hinaan yang membuatku tertampar untuk berubah menjadi lebih baik, ya hanya
mulut yang menyahuti omongan kotor yang merusakan hati ini. Seharusnya cemoohan
itu ku rubah dalam lubuk hati kecil ini, menjadi aku harus membuktikan semua
perkataan yang terlanjur merusak cemoohan ku. Lakukan lah maka aku hanya bisa
membalas dengan doa...
Aku, baru
mampu menulis semua keresahan hati ini. Aku yang belum mampu membuktikan dengan
siapa nantinya aku bersanding. Bukan, bukan aku yang sedang membicarakan
jodohku nanti, tapi hanya bergurau bagaimana aku mewujudkan siapanya diri ku
nanti. Entahlah aku selalu terpancing emosi saat cemoohan datang. Ingin ku
jadikan lagu, tapi akan menjadi bahan tawaan yang hebat jika ku tulis
disana. Ingin ku tulis di sebuah kertas lalu ku hanyutkan bersama air biru itu
tapi terlalu indah warna laut jika ku taruh tulisan keresahanku ini. Jika hanya
ku pendam dan terfikir sendirian, ya awan mendung sementara yang berperan disana.
Terlalu
berani aku melawan suara cemoohan itu, padahal belum ada satu pun hal yang
membuat mereka ingin menutup mulut jika aku berhasil. Boro – boro ingin
berhasil, mengecilkan suara saat menghinaku saja belum terlaksana. Ingin ku
ludahi mereka dengan hasil emosi ku ini, iya emosi yang membuat mereka merasa
terkejut bahwa aku mampu melayang sedangkan mereka masih menggunakan otak
mereka untuk mencemooh aku kembali. Bagaimana mempercayai diri ku sendiri jika
emosi ini tak kunjung reda. Hal yang membuatku malas beranjak bahwa matahari
tak pernah lelah menyinari mimpiku. Ingin ku bertemu seseorang yang mampu
menghinaku hingga aku tak kunjung berhenti untuk berusaha. Seperti biasa saja
aku menemukan orang – orang yang menghinaku saja.
Dan sampai
saat ini belum ada hal yang membuat diriku merasa senang, aku masih berleha –
leha dalam mimpi. Mimpi yang seharusnya menjadi nyata kini hanya sebuah
halusinasi semata. Sebentar... aku belum menjelaskan bagaimana usahaku untuk
terjatuh lalu bangkit dengan tangisan yang sangat sulit untuk di dengar yang
sangat lelah untuk menghadapi mentari esok. Bagiku, matahari hanya hiasan
sementara yang menerangi saat seseorang sedang tidak membutuhkan chaya karna
sudah sampai di titik kebahagiannya jadi matahari sudah tak perlu lagi ada di
hidupnya. Dan ada orang lain merasa hidupnya gelap padahal matahari tepat
menemani harinya dengan ceria namun ia belum sampai di titik kebahagiaanya maka
matahari tetap gelap di matanya. Iya itu
aku.
Mungkin
jika orang lain membaca tulisanku akan merasa hidupku terlalu sia – sia jika
hanya mengeluh. Percayalah mengeluh pada tulisan membuat dirimu merasa di
dengar, walaupun yang membaca dirimu sendiri. Sudah berkali – kali aku gagal
dan sudah di umur saat ini kegagalan terlalu lama. Seharusnya kegagalan itu
terjadi sebelum 17 tahun. Umur macam apa ini, aku belum menghasilkan suata hal
yang bisa membuatku melayang. Iya, mimpi ku pendek makanya aku butuk highheels
untuk menunjang penampilan mimpiku. Tapi apalah mimpi ini hanya semu, kejadian
yang tak kunjung nyata. Ya mengeluh
kembali. Iya aku akan berhenti tentang keluhan ini. Dan aku tak tahu kapan
keluhan ini menjadi sebuah senyuman dan mimpi menjadikan aku melayang.
Aku hanya
ingin mewujudkan suatu mimpi ku, mimpi yang orang lain akan terus tertawa dan
aku hanya membalas tawa juga. Ya kadang mu marah kadang ku tertawa, namun yang
paling keras adalah emosi lalu ku lontarkan dengan tawaan. Terimakasih orang –
orang yang membuatku terluka dan ku ikhlaskan bibir ini tertawa padahal ku
sangat jatuh sakit. Mungkin nantinya kalian yang menghina mimpi ku akan jatuh
hati tentang aku mampu melayang. Ya mimpi yang membuatku bahagia sampai merasa
melayang, seperti merasakan sensai ganja untuk merasa melayang dengan
sungguhan. Karna orang lain hanya ingin mendengar dan melihat kita sudah
mencapai puncak kesempurnaan daripada mendengar apa itu perjuangan kesusahan
kita. Kecuali orang yang selalu mencintai mu dengan se- kurangnya sempurna mu
itu.