Jumat, 15 April 2016

buatlah seperti ganja



    Aku kebingungan bagaimana cara aku mewujudkan mimpiku, sementara aku tidak mengetahui apa itu mimpi ? Setiap waktunya mimpi itu selalu berubah, aku memaksakan apa yang terjadi di emosi itu. Aku tak mampu mengontrol mau jadi apa nantinya aku ini. Cemooh, setiap waktu semooh berlalu dan menghadang. Tak ada hinaan yang membuatku tertampar untuk berubah menjadi lebih baik, ya hanya mulut yang menyahuti omongan kotor yang merusakan hati ini. Seharusnya cemoohan itu ku rubah dalam lubuk hati kecil ini, menjadi aku harus membuktikan semua perkataan yang terlanjur merusak cemoohan ku. Lakukan lah maka aku hanya bisa membalas dengan doa...
   Aku, baru mampu menulis semua keresahan hati ini. Aku yang belum mampu membuktikan dengan siapa nantinya aku bersanding. Bukan, bukan aku yang sedang membicarakan jodohku nanti, tapi hanya bergurau bagaimana aku mewujudkan siapanya diri ku nanti. Entahlah aku selalu terpancing emosi saat cemoohan datang. Ingin ku jadikan lagu, tapi akan menjadi bahan tawaan yang hebat jika ku tulis disana. Ingin ku tulis di sebuah kertas lalu ku hanyutkan bersama air biru itu tapi terlalu indah warna laut jika ku taruh tulisan keresahanku ini. Jika hanya ku pendam dan terfikir sendirian, ya awan mendung sementara yang berperan disana.
    Terlalu berani aku melawan suara cemoohan itu, padahal belum ada satu pun hal yang membuat mereka ingin menutup mulut jika aku berhasil. Boro – boro ingin berhasil, mengecilkan suara saat menghinaku saja belum terlaksana. Ingin ku ludahi mereka dengan hasil emosi ku ini, iya emosi yang membuat mereka merasa terkejut bahwa aku mampu melayang sedangkan mereka masih menggunakan otak mereka untuk mencemooh aku kembali. Bagaimana mempercayai diri ku sendiri jika emosi ini tak kunjung reda. Hal yang membuatku malas beranjak bahwa matahari tak pernah lelah menyinari mimpiku. Ingin ku bertemu seseorang yang mampu menghinaku hingga aku tak kunjung berhenti untuk berusaha. Seperti biasa saja aku menemukan orang – orang yang menghinaku saja.
   Dan sampai saat ini belum ada hal yang membuat diriku merasa senang, aku masih berleha – leha dalam mimpi. Mimpi yang seharusnya menjadi nyata kini hanya sebuah halusinasi semata. Sebentar... aku belum menjelaskan bagaimana usahaku untuk terjatuh lalu bangkit dengan tangisan yang sangat sulit untuk di dengar yang sangat lelah untuk menghadapi mentari esok. Bagiku, matahari hanya hiasan sementara yang menerangi saat seseorang sedang tidak membutuhkan chaya karna sudah sampai di titik kebahagiannya jadi matahari sudah tak perlu lagi ada di hidupnya. Dan ada orang lain merasa hidupnya gelap padahal matahari tepat menemani harinya dengan ceria namun ia belum sampai di titik kebahagiaanya maka matahari tetap gelap di matanya.  Iya itu aku.
   Mungkin jika orang lain membaca tulisanku akan merasa hidupku terlalu sia – sia jika hanya mengeluh. Percayalah mengeluh pada tulisan membuat dirimu merasa di dengar, walaupun yang membaca dirimu sendiri. Sudah berkali – kali aku gagal dan sudah di umur saat ini kegagalan terlalu lama. Seharusnya kegagalan itu terjadi sebelum 17 tahun. Umur macam apa ini, aku belum menghasilkan suata hal yang bisa membuatku melayang. Iya, mimpi ku pendek makanya aku butuk highheels untuk menunjang penampilan mimpiku. Tapi apalah mimpi ini hanya semu, kejadian yang tak  kunjung nyata. Ya mengeluh kembali. Iya aku akan berhenti tentang keluhan ini. Dan aku tak tahu kapan keluhan ini menjadi sebuah senyuman dan mimpi menjadikan aku melayang.
   Aku hanya ingin mewujudkan suatu mimpi ku, mimpi yang orang lain akan terus tertawa dan aku hanya membalas tawa juga. Ya kadang mu marah kadang ku tertawa, namun yang paling keras adalah emosi lalu ku lontarkan dengan tawaan. Terimakasih orang – orang yang membuatku terluka dan ku ikhlaskan bibir ini tertawa padahal ku sangat jatuh sakit. Mungkin nantinya kalian yang menghina mimpi ku akan jatuh hati tentang aku mampu melayang. Ya mimpi yang membuatku bahagia sampai merasa melayang, seperti merasakan sensai ganja untuk merasa melayang dengan sungguhan. Karna orang lain hanya ingin mendengar dan melihat kita sudah mencapai puncak kesempurnaan daripada mendengar apa itu perjuangan kesusahan kita. Kecuali orang yang selalu mencintai mu dengan se- kurangnya sempurna mu itu.